Jika segelintir orang berkata bahwa Dia adalah tumpuanku untuk mendapatkan suaka,
Yang lalu kubenamkan segala yang sakit disetiap jengkal hatiku di hatinya
Mereka salah, tapi ada benarnya juga
Dia memang harapan terakhirku
Manusia yang memandangku utuh
Yang mengkonstruksi ulang sehabis ledakan dihatiku hanya dengan senyumnya
Pegangan tangannya kokoh menggenggam
Tanpa ragu meski beribu tusukan bertalu menyerangnya
Ia rela terhunus oleh kata-katanya sendiri untuk tetap mencintaiku sebagaimana adanya aku
Ia rela meringis memandangi airmataku menetesi tiap jengkal luka dihatinya
Tetapi setelah pengakuan menancap tajam dimemorinya
Ia tetap menyediakan pelukan hangat untuk menenangkanku
Aku harus jujur, engkau pernah kujadikan pilihan akhir dibalik keputusasaan diriku
Terkungkung pada rasa bersalah di masa lalu itu begitu menyiksa
Selalu menganggap bahwa aku sudah tak pantas lagi diperjuangkan
Adalah hal yang terpatri mantap disudut logikaku
Aku belum teryakini sepenuhnya, aku harus jujur akan hal itu
Tetapi apa yang terjadi sekarang, aku meyakininya sebagai proses
Waktu kelak akan menjadi bukti,
Apa kata-katamu nyata atau hanya sebagai obat penghilang rasa sakit sementara
Tuesday, April 12, 2016
Friday, April 8, 2016
Sahabatku, Karma Tak Kemana-mana
Ada rasa marah dan emosi yang teraduk-aduk ketika mengetahui kejadian demi kejadian apa yang ia alami. Aku tak perlu menyebutkan namanya. Yang pasti ia sahabatku. Selama ini hanya seutas senyum dan tawa bergulir dari bibirnya tiap saban sore kuhubungi dirinya yang kini sudah jauh dari pendar penglihatanku. Selayaknya seorang istri yang patuh pada suami, sahabatku pergi mengikut suaminya. Keponakanku? Ahh, kelak dia akan tau tantenya ini sangat sayang padanya.
Semakin lama semakin palsu kudengar tawanya. Ada nada letih bergulir setiap kutanya kabarnya yang selalu ia jawab 'baik-baik saja'. Ada kekhawatiran di hati namun enggan bertanya karena ketakutanku lebih besar dibanding khawatirku. Seandainya memang ia punya masalah, bisakah aku membantunya?
Setiap sehabis saling bertukar kabar via suara, selalu ada genangan airmata menumpuk di pulupuk mata. Antara rindu atau feeling tak menentu mengenai bagaimana sebenarnya kabarnya disana. setiap perlahan kudesak, akhirnya pada suatu malam ia mengaku padaku. Pengakuan yang sontak menaikkan pitamku. Antara emosi dan pasrah karena tak dapat melakukan apapun selain menangis. Aku tak kuat membayangkan jika aku lah yang ada diposisinya sekarang. Tak kuhiraukan lagi aku sedang dimana, dan berapa orang yang ku buat cemas karena melihatku berbagi kabar via suara seraya menangis. Hanya itu yang mampu kubuat. Selebihnya merajut doa dalam diamku, berharap si EmpuNYA hidup sudi menoleh sedikit saja pada sahabatku.
Tetapi sayang, Tuhan tak membiarkanmu menjalani semuanya sendiri. Sementara si pemeran utama masalahmu ini bebas berkeliaran. Entah diliputi rasa bersalah ataupun tidak, saat itu kita belum tau. Tak lama semenjak kejadian pengakuanmu itu, Tuhan menjamah doa kita. Dia yang mungkin sudah terlalu pesimis tuk kamu harapkan, hadir kembali. Hadir dengan sejuta sesal akan sumpah serapah yang pernah dengan dendamnya kamu lontarkan padanya. Hadir dengan kenyataan bahwa sepanjang sepeninggal dirimu, ia menyesal bukan kepalang. Ada sebendung keinginan sujud dikakimu menjuntai berpuluhribu maaf. Tapi aku tau kamu sayang, seberapa banyakpun sumpah serapahmu itu, jauh dalam lubuk hatimu masih ada cinta paling tulus kau sisakan untuknya kelak jika ia hadir kembali. Ya, kini ia hadir kembali.
Nah, mengenai yang sekarang telah menjadi pasangan hidupmu, yang tega menyiksamu. Oh, bukan hanya dirinya melainkan seluruh keluarga besarnya turut melukai dirimu dan keponakanku, silahkan tanya Tuhan sayang. Sebaik-baiknya tindakan apa yang harus engkau lakukan. Melangkahlah dengan terlebih dahulu bertanya pada Tuhan. Jangan ulangi gegabah yang sama. Aku, selalu ada dan turut menyemangatimu apapun keputusanmu. Segala yang membuatmu bahagia, turut menjadi kebahagiaanku juga.
Tidak pernah ada yang kebetulan dalam hidup ini, sayang. Semua telah digariskan seturut kehendak sang skenario kehidupan. Pahamilah segala sesuatunya sebagai pilihan. Melangkahlah sesuai pertimbangan. Ia dihadirkan Tuhan kembali ke hidupmu bukanlah juga sebuah kebetulan. Tuhan ijinkan bertahun tahun ia menikmati karma nya terlebih dahulu sebelum akhirnya dia dihadapkan kembali pada kenyataan bahwa anaknya sudah tumbuh besar, sementara beribu maaf rasanya tak cukup mengganti momen dimana seharusnya ia menyaksikan tumbuh kembang anaknya, mencurahkan kasih sayangnya sebagai seorang bapak yang utuh. Sebagai seorang suami yang bertanggungjawab.
Kelak ia akan berterimakasih pada sang Karma, pada lontaran sumpah serapahmu, karena berkat itu semua akhirnya ia merasakan cambukan pembalasan. Bukan dari tanganmu, sayang. Tapi dari tangan Sang Takdir.
Berbahagialah selalu, sayang. Doaku selalu mengiringi setiap langkah yang kau pilih.
Tuhan Yesus menyertaimu dan keponakanku. ❤
-aisp
Semakin lama semakin palsu kudengar tawanya. Ada nada letih bergulir setiap kutanya kabarnya yang selalu ia jawab 'baik-baik saja'. Ada kekhawatiran di hati namun enggan bertanya karena ketakutanku lebih besar dibanding khawatirku. Seandainya memang ia punya masalah, bisakah aku membantunya?
Setiap sehabis saling bertukar kabar via suara, selalu ada genangan airmata menumpuk di pulupuk mata. Antara rindu atau feeling tak menentu mengenai bagaimana sebenarnya kabarnya disana. setiap perlahan kudesak, akhirnya pada suatu malam ia mengaku padaku. Pengakuan yang sontak menaikkan pitamku. Antara emosi dan pasrah karena tak dapat melakukan apapun selain menangis. Aku tak kuat membayangkan jika aku lah yang ada diposisinya sekarang. Tak kuhiraukan lagi aku sedang dimana, dan berapa orang yang ku buat cemas karena melihatku berbagi kabar via suara seraya menangis. Hanya itu yang mampu kubuat. Selebihnya merajut doa dalam diamku, berharap si EmpuNYA hidup sudi menoleh sedikit saja pada sahabatku.
Tetapi sayang, Tuhan tak membiarkanmu menjalani semuanya sendiri. Sementara si pemeran utama masalahmu ini bebas berkeliaran. Entah diliputi rasa bersalah ataupun tidak, saat itu kita belum tau. Tak lama semenjak kejadian pengakuanmu itu, Tuhan menjamah doa kita. Dia yang mungkin sudah terlalu pesimis tuk kamu harapkan, hadir kembali. Hadir dengan sejuta sesal akan sumpah serapah yang pernah dengan dendamnya kamu lontarkan padanya. Hadir dengan kenyataan bahwa sepanjang sepeninggal dirimu, ia menyesal bukan kepalang. Ada sebendung keinginan sujud dikakimu menjuntai berpuluhribu maaf. Tapi aku tau kamu sayang, seberapa banyakpun sumpah serapahmu itu, jauh dalam lubuk hatimu masih ada cinta paling tulus kau sisakan untuknya kelak jika ia hadir kembali. Ya, kini ia hadir kembali.
Nah, mengenai yang sekarang telah menjadi pasangan hidupmu, yang tega menyiksamu. Oh, bukan hanya dirinya melainkan seluruh keluarga besarnya turut melukai dirimu dan keponakanku, silahkan tanya Tuhan sayang. Sebaik-baiknya tindakan apa yang harus engkau lakukan. Melangkahlah dengan terlebih dahulu bertanya pada Tuhan. Jangan ulangi gegabah yang sama. Aku, selalu ada dan turut menyemangatimu apapun keputusanmu. Segala yang membuatmu bahagia, turut menjadi kebahagiaanku juga.
Tidak pernah ada yang kebetulan dalam hidup ini, sayang. Semua telah digariskan seturut kehendak sang skenario kehidupan. Pahamilah segala sesuatunya sebagai pilihan. Melangkahlah sesuai pertimbangan. Ia dihadirkan Tuhan kembali ke hidupmu bukanlah juga sebuah kebetulan. Tuhan ijinkan bertahun tahun ia menikmati karma nya terlebih dahulu sebelum akhirnya dia dihadapkan kembali pada kenyataan bahwa anaknya sudah tumbuh besar, sementara beribu maaf rasanya tak cukup mengganti momen dimana seharusnya ia menyaksikan tumbuh kembang anaknya, mencurahkan kasih sayangnya sebagai seorang bapak yang utuh. Sebagai seorang suami yang bertanggungjawab.
Kelak ia akan berterimakasih pada sang Karma, pada lontaran sumpah serapahmu, karena berkat itu semua akhirnya ia merasakan cambukan pembalasan. Bukan dari tanganmu, sayang. Tapi dari tangan Sang Takdir.
Berbahagialah selalu, sayang. Doaku selalu mengiringi setiap langkah yang kau pilih.
Tuhan Yesus menyertaimu dan keponakanku. ❤
-aisp
Monday, March 21, 2016
Mencintaimu Tak Semudah Memujamu
Asamu tak sekuat kau melahapku dulu
Menceburkan ku sampai tak mampu bernafas pada lautan cintamu
Senyummu sanggup buat segala bentuk kekacauan berubah indah
Aku laksana surga bagi pengelana gurun seperti dirimu
Pada ujung nyanyian ini inginku mempertemukan
Segala rindu dan keluhan kalbuku
Rasa sesak ingin menumpahkan segala kesahku
Mencintaimu tak semudah memujamu
Walaupun sua tak kunjung kita usahakan,
Karena bodohnya kita lebih percaya pada kekuatan alam,
Tanpa berjuang berdua menyatukan harap
Tanpa ingin akan hidup berdua menjadi satu
Mencintaimu tak semudah memujamu
Tetapi hidup tanpamu serupa neraka bagiku
Jadi aku ingin satu hal tetap kau tau
Aku rela berada dineraka asalkan bersamamu.
Menceburkan ku sampai tak mampu bernafas pada lautan cintamu
Senyummu sanggup buat segala bentuk kekacauan berubah indah
Aku laksana surga bagi pengelana gurun seperti dirimu
Pada ujung nyanyian ini inginku mempertemukan
Segala rindu dan keluhan kalbuku
Rasa sesak ingin menumpahkan segala kesahku
Mencintaimu tak semudah memujamu
Walaupun sua tak kunjung kita usahakan,
Karena bodohnya kita lebih percaya pada kekuatan alam,
Tanpa berjuang berdua menyatukan harap
Tanpa ingin akan hidup berdua menjadi satu
Mencintaimu tak semudah memujamu
Tetapi hidup tanpamu serupa neraka bagiku
Jadi aku ingin satu hal tetap kau tau
Aku rela berada dineraka asalkan bersamamu.
Monday, March 14, 2016
Kau
Kau
Namamu sudah kupatri abadi dalam hati
Segala lara sudi kubagi
Macam bahagia turut kau nikmati
Engkaulah alasan terbesar hidupku
Engkaulah tarikan nafas tubuhku
Engkaulah larik terindah dalam kutipan doaku
Namun aku hanya hantu dalam hatimu
Aku ada padamu sekedar nama
Nyawaku tak pernah benar-benar berarti
Jiwaku bahkan enggan kau rengkuh
Aku berlalu begitu seluruh
Kau adalah sumur dendam terdalam hatiku
Kau pisau tertajam menusuk laraku
Segala iman kupertaruhkan untukmu
Aku rela lemah dalam pengabdianku
Penantianku kini berubah surut
Aku tak lagi laksana ombak yang beriak menanti hadirmu
Aku lesu pada sisa keping cintaku
Kau lah alasan terbesar kelemahanku.
Namamu sudah kupatri abadi dalam hati
Segala lara sudi kubagi
Macam bahagia turut kau nikmati
Engkaulah alasan terbesar hidupku
Engkaulah tarikan nafas tubuhku
Engkaulah larik terindah dalam kutipan doaku
Namun aku hanya hantu dalam hatimu
Aku ada padamu sekedar nama
Nyawaku tak pernah benar-benar berarti
Jiwaku bahkan enggan kau rengkuh
Aku berlalu begitu seluruh
Kau adalah sumur dendam terdalam hatiku
Kau pisau tertajam menusuk laraku
Segala iman kupertaruhkan untukmu
Aku rela lemah dalam pengabdianku
Penantianku kini berubah surut
Aku tak lagi laksana ombak yang beriak menanti hadirmu
Aku lesu pada sisa keping cintaku
Kau lah alasan terbesar kelemahanku.
Thursday, March 3, 2016
Derita Perempuan di Ujung Asa
Aku kacau sepanjang penghabisan perjalanan ini.
Aku bagai makhluk tak berpenghuni jiwa.
Maukah sekelak bersandar pada sakitku?
Supaya bisa sedikit saja kau tau macam apa rasanya?
Aku hendak bertekuk lutut pada setiap inchi sunyi yang menyergap
Badanku remuk ketika perlahan hendak merangkak.
Bahkan untuk menyematkan jejak pada tiap tapak kakipun,
Aku tak bisa
Pada setiap jengkal tubuhku ini sudah jadi milikmu
Sudah kau materaikan pada setiap sentuhanmu
Lantas mengapa masih ada tanya pada ujung ucapmu?
Aku kacau karena itu.
Penyerahanku tak pernah berujung untukmu
Pada setiap sunyi rela kutaruhkan demi untukmu
Bolehkah aku menyerah saja?
Aku tak tau hendak bersujud macam apa lagi.
Aku bagai makhluk tak berpenghuni jiwa.
Maukah sekelak bersandar pada sakitku?
Supaya bisa sedikit saja kau tau macam apa rasanya?
Aku hendak bertekuk lutut pada setiap inchi sunyi yang menyergap
Badanku remuk ketika perlahan hendak merangkak.
Bahkan untuk menyematkan jejak pada tiap tapak kakipun,
Aku tak bisa
Pada setiap jengkal tubuhku ini sudah jadi milikmu
Sudah kau materaikan pada setiap sentuhanmu
Lantas mengapa masih ada tanya pada ujung ucapmu?
Aku kacau karena itu.
Penyerahanku tak pernah berujung untukmu
Pada setiap sunyi rela kutaruhkan demi untukmu
Bolehkah aku menyerah saja?
Aku tak tau hendak bersujud macam apa lagi.
Sunday, February 28, 2016
Pengecut
Kalaulah boleh aku memilih, aku ingin memutar waktu sedikit kebelakang. Betapa bodohnya dulu kutanggapi omongan orangtuamu yang membuat aku berhutang ucap semakin banyak. Betapa semakin hari semakin aku tertekan karena jawabanku sendiri.
Kalaulah tau kau sebajingan ini, takkan mau kuturuti impi orangtuamu. Kalaulah mereka tau betapa aku ingin lepas, pasti mereka takkan memaksa. Sayangnya aku terlalu mencintai orangtuamu. Betapa ketika kita sudahi ini semua, akan banyak hati yang kecewa
Berapa lama lagi kan kita mainkan drama ini? Berapa banyak skenario lagi yang harus aku lakoni? Berpura-pura mencintai itu sakit. Memainkan peran sebagai calon menantu yang baik itu sulit. Tak pernah mau taukah kau bahwa aku tertekan?
Pagi ini ada satu lagi bukti kepengecutanmu. Setelah malam tadi segala makian saling terlontar, setelahnya kau datangkan kedua orangtuamu kerumah. Membujukku. Menyampaikan permintaan maafmu. Memintaku untuk kembali.
Ketahuilah kawan, bukannya aku luluh, aku semakin jijik padamu. Bayangkan jika aku tetap nekat melepas lajang denganmu, berapa banyak pihak yang kau libatkan dalam setiap pertengkaran? Harus berapa banyak orang kau biarkan tau tentang urusan rumahtanggamu sendiri?
Sungguh, kebiadabanmu itu tak termaafkan. Aku yang kau pandang hina ini ingin kau hinakan lagi? Kau anggap aku serupa seperti perempuan pemuas dosamu? Oh, kawan. Aku bukan sebodoh yang kau kira. Aku takkan sudi sampai kapanpun
Jika kau anggap aku pendosa, jangan cobai aku dengan menenggelamkan dirimu ikut berdosa bersamaku, seolah-olah aku lah induk dari segala kebiadaban.
Jangan.
Kalaulah tau kau sebajingan ini, takkan mau kuturuti impi orangtuamu. Kalaulah mereka tau betapa aku ingin lepas, pasti mereka takkan memaksa. Sayangnya aku terlalu mencintai orangtuamu. Betapa ketika kita sudahi ini semua, akan banyak hati yang kecewa
Berapa lama lagi kan kita mainkan drama ini? Berapa banyak skenario lagi yang harus aku lakoni? Berpura-pura mencintai itu sakit. Memainkan peran sebagai calon menantu yang baik itu sulit. Tak pernah mau taukah kau bahwa aku tertekan?
Pagi ini ada satu lagi bukti kepengecutanmu. Setelah malam tadi segala makian saling terlontar, setelahnya kau datangkan kedua orangtuamu kerumah. Membujukku. Menyampaikan permintaan maafmu. Memintaku untuk kembali.
Ketahuilah kawan, bukannya aku luluh, aku semakin jijik padamu. Bayangkan jika aku tetap nekat melepas lajang denganmu, berapa banyak pihak yang kau libatkan dalam setiap pertengkaran? Harus berapa banyak orang kau biarkan tau tentang urusan rumahtanggamu sendiri?
Sungguh, kebiadabanmu itu tak termaafkan. Aku yang kau pandang hina ini ingin kau hinakan lagi? Kau anggap aku serupa seperti perempuan pemuas dosamu? Oh, kawan. Aku bukan sebodoh yang kau kira. Aku takkan sudi sampai kapanpun
Jika kau anggap aku pendosa, jangan cobai aku dengan menenggelamkan dirimu ikut berdosa bersamaku, seolah-olah aku lah induk dari segala kebiadaban.
Jangan.
Saturday, February 27, 2016
Surat dari Siti Nurbaya Modern Macam Aku
Melihat judul diatas pun aku sudah jengah. Aku tau kau pun pasti begitu. Berpuluh-puluh kali sudah kita berdebat. Mempeributkan hal yang itu-itu saja. Berpuluh-puluh kali itu pula aku hendak beranjak, segitu kali jugalah kau bergegas menahan.
Tidak adakah penat dihatimu? Sekali waktu emosi memenuhi kepalamu, lalu kau sentil aku. Kau ungkit masa lalu burukku. Kau buka luka lamaku. Kau buat aku makin benci pada kaummu. Kau buat aku makin jatuh, makin dalam.
Ya, kau sudah tau itu. Lalu mengapa memintaku bertahan? Lalu mengapa selalu merengek tiap kuutarakan niatku ingin pergi? Sementara setiap kata-katamu selalu tepat menohok jantungku, yang lalu kau tutupi dengan berlutut meminta ribuan maaf?
Asyik kah kau rasa bisa membuat aku menitikkan airmata? Oh, jangan kira aku menangisimu. Mencintaimu saja pun aku belum. Aku menangisi diriku. Mengapa sebegitu harusnya aku hidup dengan kaummu kelak. Sementara akar pahitku masih menancap mantap didasar hatiku?
Kali ini aku benar-benar sudah jengah. Segampang kau bilang cinta, segampang itu pula kau kan terus mengingat. Hey, bahkan aku tak pernah meminta kau hadir. Aku bahkan jujur supaya kau menjauh. Ingat, sudah berapa kali kubukakan pintu hatiku agar kau segera keluar? Sadarlah. Kau yang minta menetap.
Aku bahkan sudah menawarkan, ada banyak pintu hati lain yang menunggu tuk kau ketuk. Setiap saat kau boleh saja melenggang pergi meninggalkan aku. Bahkan aku sudah bersumpah kelak jika kau pergi takkan sudi kuiiringi airmata. Tapi memang kepalamu kelewat batu, yang lalu diserasikan oleh mulut setajam belatimu.
Perempuan ini hanya ingin hidup. Perempuan ini akan selalu mengingat dosanya dulu tanpa perlu kau ingatkan oleh bibirmu yang lebih berdosa itu. Jangan anggap aku menganggapmu. Aku begini lebih karena menghormatimu. Aku begini lebih karena orangtuamu.
Melihat tingkahmu itu saja bisa membuat aku meratapi nasib 'Ya Semesta, apa tidak ada lelaki lebih biadab lagi untuk kau hadirkan (lagi) dalam hidupku? Mengapa pengecut semua yang datang? Mengapa sejenis lelaki modal sejuta omong yang selalu hadir? Apa cuma tinggal ini stoknya?'
Aku sudah terlalu sakit. Akan harapanku yang masih harus tertunda, akan kebodohanku dimasa lalu, akan hadirnya dirimu yang tidak begitu penting namun melelahkan hatiku. Jadi tolong, jangan tambahi tingkahmu. Kau diam dan tak bertingkah, dengan atau tanpa mengikuti alur-alur ini saja, sudah sangat membantuku.
Bayangkan jika kemudian kau semakin melunjak, jangan salahkan aku kalau pisau dapur tiba-tiba menancap tepat di atas kepalamu.
Tidak adakah penat dihatimu? Sekali waktu emosi memenuhi kepalamu, lalu kau sentil aku. Kau ungkit masa lalu burukku. Kau buka luka lamaku. Kau buat aku makin benci pada kaummu. Kau buat aku makin jatuh, makin dalam.
Ya, kau sudah tau itu. Lalu mengapa memintaku bertahan? Lalu mengapa selalu merengek tiap kuutarakan niatku ingin pergi? Sementara setiap kata-katamu selalu tepat menohok jantungku, yang lalu kau tutupi dengan berlutut meminta ribuan maaf?
Asyik kah kau rasa bisa membuat aku menitikkan airmata? Oh, jangan kira aku menangisimu. Mencintaimu saja pun aku belum. Aku menangisi diriku. Mengapa sebegitu harusnya aku hidup dengan kaummu kelak. Sementara akar pahitku masih menancap mantap didasar hatiku?
Kali ini aku benar-benar sudah jengah. Segampang kau bilang cinta, segampang itu pula kau kan terus mengingat. Hey, bahkan aku tak pernah meminta kau hadir. Aku bahkan jujur supaya kau menjauh. Ingat, sudah berapa kali kubukakan pintu hatiku agar kau segera keluar? Sadarlah. Kau yang minta menetap.
Aku bahkan sudah menawarkan, ada banyak pintu hati lain yang menunggu tuk kau ketuk. Setiap saat kau boleh saja melenggang pergi meninggalkan aku. Bahkan aku sudah bersumpah kelak jika kau pergi takkan sudi kuiiringi airmata. Tapi memang kepalamu kelewat batu, yang lalu diserasikan oleh mulut setajam belatimu.
Perempuan ini hanya ingin hidup. Perempuan ini akan selalu mengingat dosanya dulu tanpa perlu kau ingatkan oleh bibirmu yang lebih berdosa itu. Jangan anggap aku menganggapmu. Aku begini lebih karena menghormatimu. Aku begini lebih karena orangtuamu.
Melihat tingkahmu itu saja bisa membuat aku meratapi nasib 'Ya Semesta, apa tidak ada lelaki lebih biadab lagi untuk kau hadirkan (lagi) dalam hidupku? Mengapa pengecut semua yang datang? Mengapa sejenis lelaki modal sejuta omong yang selalu hadir? Apa cuma tinggal ini stoknya?'
Aku sudah terlalu sakit. Akan harapanku yang masih harus tertunda, akan kebodohanku dimasa lalu, akan hadirnya dirimu yang tidak begitu penting namun melelahkan hatiku. Jadi tolong, jangan tambahi tingkahmu. Kau diam dan tak bertingkah, dengan atau tanpa mengikuti alur-alur ini saja, sudah sangat membantuku.
Bayangkan jika kemudian kau semakin melunjak, jangan salahkan aku kalau pisau dapur tiba-tiba menancap tepat di atas kepalamu.
Subscribe to:
Posts (Atom)